220

1148 Kata

Beberapa Bulan Kemudian Suasana di kamar utama terasa begitu hangat. Cahaya lampu tidur temaram, menemani seorang wanita yang tengah duduk di atas ranjang dengan perut yang sudah sangat besar. Nala mengusap lembut perutnya yang kian membuncit, sementara di sampingnya, seorang pria dengan wajah tegang namun penuh kasih setia menemani. Ebas, yang kini sudah jauh lebih dewasa dalam bersikap, duduk dengan tangan menggenggam jemari istrinya. Sejak dokter memperkirakan HPL (Hari Perkiraan Lahir) Nala, pria itu hampir tak pernah beranjak dari sisinya. "Mas, aku belum mau lahiran sekarang," gumam Nala, sedikit mengerucutkan bibirnya. Ebas tersenyum kecil, lalu mengecup punggung tangan istrinya. "Iya, Sayang. Tapi dokter bilang bisa sewaktu-waktu, jadi Mas nggak akan ke mana-mana. Mas bakal sta

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN