113

1312 Kata

Haris menatap putranya dengan sorot mata tajam, penuh amarah yang tertahan. Mata elangnya seolah siap menerkam mangsanya. Tak habis pikir. Bagaimana bisa pria dewasa di hadapannya ini bertindak sebodoh itu? Bagaimana bisa kepintaran dan kecerdasan yang selama ini dibanggakan tak berarti apa-apa dalam urusan rumah tangganya sendiri? "Apa yang kau lakukan beberapa hari ini, Bas?" suara Haris terdengar dalam dan berbahaya. "Sepertinya tak ada masalah di kantormu yang bisa membuatmu bangkrut, bukan?" Ebas menunduk. Rahangnya mengatup rapat. "Maaf, Pa…" Haris tertawa pendek, tawa penuh kejengkelan. "Aku tak butuh maafmu, Son," ujarnya, menatap putranya dengan penuh kekecewaan. "Kau tahu bukan siapa yang seharusnya kau mintai maaf? Jadi apa yang membuatmu seperti ini?" Ebas tetap diam.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN