95

1165 Kata

Setelah acara makan siang yang terlambat, Ebas dan Nala akhirnya memutuskan untuk pulang ke mansion utama. Mama Haris sudah beberapa kali menghubungi, bukan karena benar-benar marah, tapi lebih karena kasihan pada Nala, menantunya itu. Sebagai ibu, Mama Haris paham betul sifat anaknya—Sebasta Bayanaka Indrayan. Kalau dibiarkan, Ebas pasti akan terus mengurung Nala di dalam kamar sesuka hatinya. Ya, seperti ayahnya dulu. Buah memang tak jatuh jauh dari pohonnya, bukan? Di dalam mobil, Ebas masih setia menggenggam tangan istrinya. Ia menoleh ke samping, melihat Nala yang tiba-tiba tersenyum kecil. "Kenapa senyum-senyum?" tanyanya sembari mengecup punggung tangan Nala. Nala mengerjap, lalu cepat-cepat menyembunyikan senyumnya. "Nggak, siapa yang senyum-senyum?" elaknya, sambil memukul

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN