Raline yang sedang memasak menu mkan siang di dapur tiba-tiba di kagetkan oleh sepasang tangan yang meneluknya dari arah belakang. Ia bahkan bisa merasakan hembusan napas seseorang di lehernya.
“Raaaaf ....”
“Hmmm....”
“Aku lagi masak. Jangan peluk-peluk!”
“Kenapa?” lelaki itu masih enggan melepaskan pelukannya.
Raline mengecilkan kompor kemudian berbalik. “Kalau kamu gangguin aku terus, kapan selesainya, hmmm?”
Raline melepaskan lengan Rafly dari pinggangnya dan menuntun pria itu untuk duduk di kursi. “Mendingan kamu duduk yang anteng di sini, dan biarin aku masak. Ok?”
Rafly terkekeh. “Okeee ...”
“Nah gitu dong!” Raline kembali membalikan badan dan melanjutkan acara memasaknya.
Saat ini, ia sedang menggoreng ayam dan tempe tahu, setelah sebelumnya membuat sop serta sambal sebagai menu makan siang. Raline sedang tidak ingin membuat makan siang yang ribet sehingga sop daging menjadi pilihannya.
Rafly memperhatikan bagaimana wanita itu memasak. Pemandangan yang lagi-lagi tak pernah ia lihat di rumah semenjak menikah dengan Nessa. Padahal sebelumnya ia pernah berharap jika suatu saat ia akan menemukan moment seperti saat ini bersama Nessa.
Percayalah, lelaki mana pun pasti ingin merasakan kehidupan rumah tangga seperti pada umumnya. Setidaknya, seperti apa yang saat ini Rafly temui. Meski itu terjadi sekali selama hidupnya.
Namun, harapan itu semakin hari rasanya semakin sulit terwujud. Nessa selalu punya alasan untuk tidak memasak sekedar membuat sarapan yang simpel. Bahkan di suatu hari Nessa mengatakan jika ia tak pernah memasak, tak bisa menasak, dan tak akan pernah mau memasak.
Dan, Rafly tidak ingin menuntut. Ia memakluminya meski hati kecilnya menginginkan hal yang berbeda. Meski sebenarnya dalam hal tersebut, tidak ada yang perlu Rafly sesali sama sekali mengingat semua adalah konsekunesi yang harus ia terima, bukan?
Lamunannya terhenti ketika Raline meletakkan piring berisi ayam goreng di meja. Wanita itu juga meletakan sepanci kecil sop daging yang baunya menggugah selera. Tak lupa tempe dan tahu goreng, sambal plus lalapan, alat makan dan juga nasi untuk keduanya.
Tak sampai di sana, Raline juga menyiapkan segelas penuh air untuk Rafly kemudian ia bergabung dengan lelaki itu untuk makan siang.
“By the way, kamu izin sama Nessa gimana, Raf? Kok bisa keluar hari weekend?” tanya Raline penasaran. Ia mengambil sop ke dalam mangkuk kecil dan memberikannya pada Rafly.
Sekitar pukul sepuluh pagi tadi, Rafly mengabari jika dia akan datang untuk mengajak Raline makan siang. Namun, Raline yang sedang malas keluar memberi ide untuk makan siang di apartemennya saja yang langsung disetujui oleh lelaki itu.
And well, disini lah mereka sekarang.
“Thank you.” Rafly meletakan mangkuk itu di dekatnya. “Aku bilang ada janji sama Yessa dan ya udah dia ngizinin gitu aja setelah aku memperlihatkan riwayat chat sama Yessa,” katanya mulai menyuap sop ke mulutnya.
“Mmmm... Wah astagaa ini enak banget, Line,” pujinya jujur. “Aku udah lama gak ngerasain masakan seenak ini.”
“Gombal! Enakan mana sama masakan Nessa?” tanya Raline penasaran.
“Aku bahkan belum pernah ngerasain masakan Nessa,” ujarnya entah sadar atau tidak berkata seperti itu.
Mata Raline membulat. “Oh, ya?”
“Iya. Dia bilang enggak pernah masak, gak mau belajar masak, dan gak akan pernah masak.” Rafly menjawab dengan begitu santai seolah kekurangan istri yang harusnya ditutupi oleh suami, tak perlu ia lakukan.
Raline tersenyum penuh arti. “Pelan-pelan makannya, Raf. Nanti tersedak.” ia mengingatkan.
Keduanya pun makan siang dengan penuh kehangatan seperti layaknya pasangan normal pada umumnya. Tak jarang terselip obrolan kecil dan tawa yang membuat dunia serasa milik berdua.
Setelah makan siang, Rafly dan Raline memutuskan untuk menghabiskan waktu di ruang televisi sambil menonton film yang dipilih random dari netflix.
Rafly merebahkan tubuhnya pada sofa dengan kepala Raline yang berada di pangkuannya. Ia mengelus lembut puncak kepala Raline, wanita yang sebelumnya tak pernah Rafly bayangkan bisa ia dekap kembali.
Andai waktu bisa diputar kembali ...
“Raf ...” panggil Raline pelan. Pandangannya masih belum teralihkan dari film di hadapannya.
“Hmmm ...”
“Kalau kamu bisa kembali ke masa lalu, apa yang bakal kamu lakuin?” Raline merebahkan posisi tidurnya, membuat tatapnya kembali bertemu dengan Rafly.
“Aku bakal mencegah hari itu terjadi. Aku bakal memastikan kalau Alden booking 4 kamar sesuai rencana supaya kesalahan itu gak terjadi dan kita tetep baik-baik aja,” tuturnya. Dari tatap matanya, Raline bisa melihat penyesalan di sana.
“Kamu bahagia nikah sama Nessa?”
Kali ini Rafly tidak langsung menjawab. Bahagia? Apakah dirinya bahagia? Pertanyaan itu tiba-tiba saja mengusik pikirannya.
Pernikahan Rafly dan Nessa memang bukan dilandasi oleh rasa cinta karena sampai ia mengetahui jika Nessa hamil, perasaan cinta itu rasanya tidak pernah ada selain hanya nafsu semata. Namun, Rafly berusaha untuk menerima Nessa, belajar mencintainya demi Shafa. Akan tetapi, apakah Rafly bahagia?
“Aku lebih bahagia saat bertemu lagi dengan kamu, dan bersama seperti saat ini,” jawabnya sambil mengulas senyum.
Rafly tidak berbohong. Itu adalah sebuah kebenaran.
“Tapi kamu suami Nessa, kita nggak mungkin punya banyak waktu berdua gini,” Raline memanyunkan bibirnya cemberut.
“Hei ...” Rafly mengusap lembut kedua pipi Raline. “Ada banyak cara yang bisa kita lakuin supaya bisa menghabiskan waktu berdua. Kamu enggak usah khawatir. Okay? Cukup percaya sama aku.”
Raline tersenyum. “Promise?”
“Promise.”
Raline kemudian meneluk pinggang Rafly erat, disusul perlakuan yang sama dari lelaki itu. Ah, indah sekali bukan hubungan gelap yang dilakukan oleh dunia manusia ini?
***
Hari ini, semua berkumpul di acara pernikahan Gama. Ya, setelah melewati drama tidak direstui, akhirnya lelaki berusia 28 tahun itu kini bisa tersenyum lebar di atas pelaminan. Bersanding dengan Tiffany—wanita cantik yang telah sah dinikahinya dalam satu tarikan napas beberapa saat yang lalu.
Agma, Raline, Karesa dan Rafly duduk di satu meja bundar yang sama sambil menyaksikan runtutan acara adat sunda yang dikenal dengan istilah ‘kidung’.
Acara tersebut berjalan dengan sangat khidmat. Setelahnya, Gama dan Tiffany mulai melakukan sesi foto bersama dua keluarga inti.
Terlihat Pak Dimas yang baru saja datang, berjalan menghampiri meja Raline dan duduk di tempat yang kosong.
“Loh udah selesai ya, acaranya?” tanya beliau saat melihat Gama dan istrinya sedang berfoto di atas pelaminan. Acara yang dimaksud oleh Pak Dimas tentu saja acara akad.
“Udah dari tadi, Pak. Lagian tumben baru dateng. Gak liat undangan apa, Pak?” tanya Agma yang duduk tepat di samping pak Dimas.
“Saya tadi ada urusan. Kirain sebentar, ternyata lama. Jadi telat datangnya,” jelas Pak Dimas yang dibalas anggukan Agma.
Karesa yang duduk di samping Raline, menyikut lengan perempuan itu. “Lo gak kepengen, Ra?” godanya membuat Raline kini menjadi pusat perhatian di meja itu.
“Ya mau juga, Mbak. Tapi aneh gak sih nikah gak ada calonnya?” Raline terkekeh.
“Iya juga, sih. Lagian lo cantik-cantik gini bisa-bisanya jomblo,” tutur Karesa.
“Cariin lah, Kar. Kasian wanita secantik Raline masa gak punya gandengan.” Pak Dimas bersuara.
“Atau mau gue kenalin sama temen-temen gue, Line. Kebetulan masih ada yang jomblo,” celetuk Agma.
Karesa langsung menyahut. “Ah jangan! Temen-temen lu gak ada yang beres. Gak, Ra, jangan mau. Temennya Agma kan bapak-bapak semua!”
“Wah jangan salah. Umur boleh kepala tiga, tapi yang dewasa biasanya lebih menggoda. Iya gak, Ra?”
Raline terkekeh. Diam-diam ia mencuri pandang ke arah Rafly. Lelaki itu, terlihat diam saja. Sama sekali tidak berminat bergabung dengan obrolan yang sedang berlangsung. Tidak, lebih tepatnya Rafly tidak suka dan Raline sangat tahu itu.
“Yaaaa, boleh lah kalau ada yang cocok.”
“Gampang kalau itu...”
“Eh iya saya lupa ngomong. Mumpung inget deh,” ujar Pak Dimas tiba-tiba.
“Ra, besok kamu ikut pelatihan sama Rafly, ya. Acaranya di Bandung, cuman sehari sih tapi kemungkinan bakal nyampe sore jadi pasti nginep semalem.”
“Harusnya ini Gama yang berangkat, tapi berhubung dia cuti nikah, jadi kamu aja yang gantiin. Itung-itung belajar juga,” lanjutnya.
“Oh ... oke, Pak.”
Atasannya itu lalu mengotak ngatik ponselnya, kemudian kembali bersuara.
“Tiket sama kamar hotelnya udah saya forward ya, Raf. Kamu tinggal cek aja dan share ke Raline. Siap kan, Raf?” tanya Pak Dimas yang tatapannya kini beralih pada Rafly.
“Siap, Pak, aman.”
“Ok, ya. Sorry banget nih bilangnya dadakan. Saya beberapa hari ini sibuk banget sampe gak sempet bilang.” Pak Dimas memberi alasan. Namun, Agma tiba-tiba nyeletuk.
“Sibuk atau lupa, Pak? Bapak kan biasanya pelupa.”
“Nah, itu kamu tahu,” timpalnya membuat semua orang yang berada di meja tersebut tertawa.
Tak lama, pembawa acara memanggil divisi moderate content bersama supervisor-nya naik ke atas pelaminan untuk foto bersama.
Raline ikut bangkit bersama yang lain dan berjalan menghampiri pelaminan untuk mengucapkan selamat kepada pengantin dan foto bersama.
Sesi tersebut berlangsung cukup cepat. Ia dan divisinya kemudian melipir ke sisi pelaminan. Diantara yang lain, Pak Dimas kembali bersuara. “Saya pamit duluan, ya. Abis ini masih ada acara di tempat keluarga istri. Takut telat,” pamitnya kemudian segera berlalu setelah mendapat respond dari para timnya.
“Gue juga nih, gak bisa lama-lama. Udah janji sama anak dan suami gue,” ujar Karesa ketika mendapat pesan dari suaminya.
“Bareng gue aja, Mbak. Lo gak bawa mobil, kan?” tawar Agma kemudian. “Kebetulan gue mau ketemu sama temen yang searah sama rumah lo.”
“Wah boleh, deh.”
“Raf, Ra, kita duluan ya, gak papa, kan?”
“Gak apa-apa, Mbak. Abis ini gue juga mau langsung balik, sih.” Raline menjawab.
“Hati-hati,” ucap Rafly pada keduanya. Setelahnya mereka pun ikut berlalu, menyisakan dirinya dan Raline.
“Mau langsung pulang?” tanya Rafly. Ia mengeluarkan ponsel dari celananya, mengotak-ngatik ponselnya sebentar lalu kembali bersuara. “Pesan dari Pak Dimas udah aku forward.”
“Oh?” Raline ikut menganbil ponsel dari tasnya dan segera mengecek email. “Oke, udah masuk.”
“Mau langsung pulang?” Rafly mengulang kalimatnya yang tadi belum sempat mendapat tanggapan.
Raline mengangguk. “Aku belum siap-siap buat besok.”
“Besok aku jemput atau ketemu langsung di stasiun?”
“Jemput boleh kalau enggak merepotkan.”
Rafly tersenyum. “Enggak ada yang merepotkan kalau tentang kamu, Line,” katanya terdengar begitu manis. Raline hanya membalas dengan senyuman yang sama lalu keduanya beranjak dari sana menuju parkiran tempat di mana Rafly memarkir mobilnya.
***
“Sayang, besok pagi-pagi banget aku harus berangkat ke Bandung. Ada pelatihan. Nginep sehari di sana. Tolong kamu siapin baju aku selama di sana, ya,” ujar Rafly ketika keluar dari kamar mandi.
Hubungan keduanya sudah kembali membaik meski tak bisa menghapus rasa curiga dan posesif dari diri Nessa.
Nessa yang baru saja menidurkan Shafa di tempat tidurnya, sontak menggigit bibir mendengar ucapan Rafly. Hal yang selalu Nessa lakukan tiap kali suaminya memberi kabar hendak melakukan perjalanan kantor.
Ia mendekati suaminya yang sudah duduk di atas tempat tidur dengan laptop yang berada di pangkuannya.
“Sama siapa, Mas?” pertanyaan itu terlontar, membuat Nessa harap harap cemas menunggu respon Rafly.
“Harusnya sama Gama, tapi dia cuti nikah jadi aku berangkat sendiri,” ujarnya yang jelas bohong.
Seketika jawaban itu membuat Nessa sedikit lega. “Kalau gitu aku siapin sekarang ya, Mas.”
Rafly yang sedari tadi sibuk dengan laptopnya, kini beralih menatap Nessa. Ia tersenyum. Tangannya terulur mengusap pipi wanita itu. “Makasih, sayang.”
Nessa balas tersenyum kemudian beranjak dari kasur untuk mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh Rafly selama di Bandung nanti.
“Berangkat jam berapa, Mas?”
“Kereta berangkat jam setengah 7 pagi jadi kayaknya aku lebih pagi dari rumah,” jawab Rafly yang kini sudah kembali fokus dengan laptopnya.
Ia kemudian mengambil ponselnya, berniat untuk mengecek hotel yang sebelumnya sudah di pesan oleh Pak Dimas. Namun, saat ia mengeceknya, Rafly baru menyadari sesuatu.
Rafly buru-buru menutup laman email dan beralih ke w******p, lalu mencari nama Pak Dimas dan mengetikkan sesuatu di sana.
Rafly
Pak maaf ganggu waktunya. Saya mau tanya ini hotelnya kenapa connecting room, ya?
Pak Dimas
Ah iya, saya lupa bilang. Tadi pagi di tempat Gama saya mau bilang gak enak sama yang lain.
Gak papa kan, Raf, connecting room? Saya salah pilih kamarnya.
Tak lama, satu pesan dari kontak yang sama kembali muncul.
Pak Dimas
Selama pintu penghubungnya gak dibuka, aman aja, Kok. Kayak kamar hotel pada umumnya.
Rafly menutup aplikasi WhatsAppnya dan mengabaikan pesan tersebut. Beberapa saat ia termenung. Di satu sisi hal ini mengingatkannya pada kejadian lalu bersama Nessa saat semuanya dimulai dulu. Di sisi lain, bolehkah Rafly sedikit bersorak dan menganggap kekeliruan yang dibuat oleh atasannya itu merupakan bonus untuknya dan Raline?
Ah, tubuh lelaki itu seketika memanas membayangkan bisa satu kamar dengan Raline.
***