04 — Kegelisahan Nessa dan Awal Dimulainya Permainan

1181 Kata
Nessa mengetik nama Raline di kolom pencarian. Ia kemudian menyentuh layar ponselnya tepat pada username Raline yang kemudian menampilkan profile dari pemilik akun tersebut. Postingan terakhirnya tercantum satu bulan yang lalu dengan lokasi tempat yang masih sama. Tak berhenti sampai disitu, ia beralih pada beberapa highlight yang tertera di sana, membukanya satu persatu. Tidak ada yang aneh. Yang Nessa inginkan pun tidak dia temukan. Terakhir, Nessa membuka story Raline. Terlihat waktu yang tertera di sana 23 jam yang lalu, menampilkan foto makanan di salah satu restaurant and just it. Nessa tidak menemukan hal lain lagi. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi, kembali meletakan ponsel di meja setelah memastikan akun fake-nya sudah berhasil log out. Setelah pulang dari toko roti beberapa saat yang lalu, pikiran Nesa mendadak kalut. Perut yang awalnya meronta minta di isi, mendadak tidak berselera sama sekali. Pertemuannya dengan Raline sangat mendadak dan tiba-tiba. Ia bahkan tidak pernah membayangkan akan kembali bertemu dengan wanita itu setelah 2 tahun lamanya. Nessa menggigit jari telunjuknya sembari berpikir harus bagaimana sekarang. Karena sungguh tidak mungkin suatu saat Rafly pasti akan bertemu dengan Raline jika benar wanita itu sudah kembali. Nessa menggeleng. Ia menjauhkan punggungnya dari kursi. Kedua sikutnya refleks bertumpu pada meja, Nessa memijit pelipisnya pelan. "Nggak, Mas Rafly enggak boleh ketemu sama Raline lagi. Susah payah aku mendapatkannya dulu, aku enggak mau kehilangan Mas Rafly apapun alasannya! Enggak ada yang boleh rebut mas Rafly dari aku!" tekadnya kuat. *** "Mas?" Nessa memberanikan diri untuk bertanya setelah berperang lumayan panjang dengan pikirannya sendiri. Namun, ia tetap harus hati-hati. Satu hal yang pasti, ia tidak akan pernah menceritakan pertemuannya dengan Raline siang tadi. Atau mengatakan pada Rafly jika Raline sudah kembali. Tidak. Ia terlalu takut jika Rafly nantinya akan mencari Raline dan kembali pada wanita itu. Karena, seberapa yakin pun dirinya pada Rafly. Seberapa percaya pun ia pada cinta lelaki itu terhadapnya, Nessa selalu takut pertemuan kembali akan mengubah segalanya. Lelaki yang baru saja kembali duduk di kursi makan dengan membawa segelas air itu menoleh. "Kenapa, sayang?" "Itu, tadi aku ketemu sama Halya terus dia nanyain lowongan kerja yang waktu itu sempet aku share, kira-kira masih ada enggak, Mas?" Nessa mulai melancarkan aksi cari tahunya. "Oh buat ngisi divisi moderate content? Sayangnya udah ada yang ngisi," jawab Rafly. Lelaki itu terlihat santai. "Yaah, sayang banget." Nessa kembali bersuara, "Yang ngisi ... perempuan?" tanyanya berhati-hati. Rafly sangat sensitif jika Nessa mulai posesif yang berujung pada pertengkaran diantara keduanya. "Laki-laki." Rafly menjawab singkat. Ia terpaksa berbohong pada Nessa. Diam-diam, Nessa bernapas lega. Dalam hati ia bersyukur setidaknya prediksinya di awal salah. Bukan Raline orangnya. Lagipula, tidak mungkin juga mengingat divisi tersebut jauh berbeda dengan pekerjaan Raline sebelumnya. "Mas, enggak mau ambil cuti? Kita udah lama loh gak liburan." Nessa mengganti topik pembicaraan. Untuk saat ini, itu dulu sudah cukup. Rafly terlihat berpikir. Jika diingat lagi mereka memang sudah lama tidak menghabiskan waktu berdua semenjak Nessa melahirkan sampai anak mereka berusia 1 tahun 3 bulan. Mereka juga belum pernah kembali berhubungan mengingat Nessa yang belum siap dan Rafly menghornati keputusan tersebut. Atau jangan-jangan Nessa sudah kembali siap untuk dirinya? Ah, Rafly sudah membayangkan bagaimana kedua bukit itu terlihat padat dan sesak dibalik tangtop putih yang dikenakan Raline. Raline? Kenapa? Astagaaa... Rafly sontak merutuki pikiran liarnya yang tiba-tiba saja tertuju pada Raline. "Mas?" panggil Nessa ketika melihat suaminya mendadak melamun. "Aku liat jadwal dulu, ya." Lalu, Rafly teringat akan sesuatu. "Oh ya, aku lupa ngasih tau kamu kalau weekend ini divisi aku ngadain Gathering ke bandung. Jum'at sore berangkat, minggu siangnya pulang. Yaa nyampe rumah mungkin malem. Enggak apa-apa, kan?" "Jangan macem-macem!" Tatap Nessa tajam. Ia akan selalu bersikap possesif jika sudah membahas tentang acara kantor dan sejenisnya yang dimana itu selalu mengingatkan dirinya akan bagaimana kisahnya dan Rafly dimulai dahulu. "Enggak akan. Trust me, Ness. You're my everything," ucap Rafly meyakinkan istrinya-juga meyakinkan dirinya sendiri. *** Sekitar pukul 9 malam, semua tim divisi moderate content sampai di salah satu villa di daerah lembang-Bandung, setelah menempuh perjalanan kurang lebih 5 jam dari ibu kota. Saat turun dari mobil, Raline mendekap jaketnya erat. Suasana Bandung masih saja sama-dingin, meskipun ia sudah menggunakan jaket yang lumayan tebal. Setelah memandangi Villa yang akan mereka tempati dua malam 3 hari itu, Raline meraih koper yang baru saja diturunkan oleh Gama, menyeretnya masuk ke dalam Villa. Villa tersebut terbilang sangat luas dengan 2 lantai. Terdiri dari 5 kamar di lantai bawah dan 5 kamar lagi di lantai atas. Satu ruang tamu yang besar, satu dapur dengan perlengkapan masak yang lengkap, satu kolam renang, taman samping yang cocok untuk berkumpul sambil barbeque-an, serta ruang karaoke yang berada di lantai atas. Setelah mendapat kunci kamar, Raline yang satu kamar bersama Karesa langsung naik ke lantai 2 untuk beristirahat. Perjalanan Jakarta-Bandung cukup melelahkan sehingga saat sampai di kamar, keduanya langsung menyerbu kasur masing-masing. "Ah akhirnya ketemu kasur juga." Karesa berujar sambil menatap langit-langit kamar. Di posisi yang sama, Raline ikut bersuara. "Gue tadinya nyampe sini mau mandi, Mbak. Tapi kayaknya gue mengurungkan niat, deh. Dingin banget." Karesa terkekeh. "Sama, gue juga. Besok aja kali, ya? Walau pake air anget tetep aja gak sih? Bandung tuh dingin banget!!!" Tak berselang lama, ponsel keduanya berbunyi. Sebuah notifikasi dari grup kantor. Pak Dimas memberitahu jika makan malam sudah siap. Mereka memang tidak makan malam di jalan mengingat hujan deras yang mengguyur perjalan mereka hampir 2 jam lamanya. "Turun yuk, Ra? Laper, nih," ajak Karesa. Wanita itu mengubah posisinya menjadi duduk di atas kasur. "Gue ganti baju dulu deh, Mbak. Gak enak banget nih pengen ganti. Lo kalau mau duluan, duluan aja. Nanti gue nyusul." "Beneran nih gak papa?" "Beneran, Mbak. Nanti gue nyusul." Raline mengulang kalimatnya. "Oke kalau gitu. Gue ke bawah duluan ya, Ra." Yang langsung diangguki oleh Raline. Setelah Karesa pergi, Raline beranjak dari posisinya, meraih koper dan mengambil dress tidur. Ia kemudian melangkah ke kamar mandi untuk berganti baju. Sekitar 10 menit, Raline keluar dari kamarnya sudah mengenakan dress tidur berwarna prafucino yang dibalut oleh cardigan rajut tebal putih gading. Jadi meskipun menggunakan dress tidur, Raline akan tetap merasa hangat. Di ruang makan, semua sudah berkumpul untuk makan malam. Raline tidak melihat kursi kosong yang tersedia selain kursi yang berada di samping Rafly sehingga ia berjalan menuju kursi tersebut dan duduk tepat di sebelah Rafly. "Wanna to be a b***h, hm?" ucap Rafly pelan, hampir tidak terdengar. "For you? Of course, I want." Raline berucap tak kalah pelan. Membuat Rafly kembali mencondongkan tubuhnya ke sisi Raline. "Kamu terlalu jauh." "What?" "Berubah," ujar Rafly, memandang Raline singkat kemudian kembali sibuk memilih menu yang tersedia di meja. Raline tersenyum tipis. Ia ikut sibuk mengambil nasi dan beberapa pilihan menu. Rafly benar, dirinya berubah dan itu terkesan drastis. Tapi tidak bagi Raline. Ia menikmati setiap peosesnya sehingga sampai di titik sekarang, ia tidak merasa harus menyesali apapun. Raline menyukai dirinya yang sekarang. Dirinya yang lebih berani dalam banyak hal termasuk penampilan. Satu hal yang penting bahwa Rafly harus tahu jika Raline yang ia lihat sekarang, bukanlah Raline yang dulu lelaki itu tinggalkan. Tidak. Raline dengan segala pemikiran idealisnya sudah hilang termakan kekalahan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN