“Habis dari mana, Mas?” tanya Nessa saat Rafly kembali ke rumah setelah semalaman tidak pulang.
Rafly yang hendak menaiki anak tangga seketika mengurungkan langkahnya lalu berbalik pada sumber suara. Nessa ada di sana, duduk di sofa dengan kedua tangan yang terlipat di d**a, menatapnya penuh curiga.
“Semalaman kamu di mana?” Nessa tidak bertanya, ia menyudutkan. Rafly sudah bisa menebak isi pikiran istrinya.
“Aku menginap di rumah teman.” jawaban yang sesungguhnya tidak sepenuhnya salah. Rafly tidak sedang berbohong. Ia memang menginap di rumah seorang teman, bukan? Teman kerja, teman satu divisi, teman ... tidur (?)
Nessa terlihat tidak puas dengan jawaban Rafly. Tidak, lebih kepada bukan itu jawaban yang ia ingin dengar. “Teman yang mana? Aku telepon Agma dia bilang kamu lagi gak sama dia. Aku telepon Gama juga sama. Teman kamu yang mana yang kamu maksud, Mas?”
Rafly memutar bola matanya jengah. “Yesa, teman satu kampus aku dulu. Kalau kamu gak percaya, hubungi aja dia.” Kali ini Ia total berbohong.
Nessa langsung menghubungi kontak dengan nama Yesa yang baru saja dikirim oleh Rafly ke ponselnya. Sesaat, telepon itu berdering sebelum akhirnya seseorang bersuara dari sebrang sana. Tak lupa Nessa memencet icon speaker.
“Hai, sorry nih ganggu pagi-pagi. Aku Nessa, istrinya Mas Rafly. Mas aku mau tanya semalem bener Mas Rafly nginep di rumah Mas Yesa?”
“Oh hai. Iya semalam Rafly memang nginep di rumah gue, Ness. Tapi dia udah balik kok dari tadi pagi. Belum nyampe?”
“Aah, udah-udah. Ini barusan sampe rumah kok, Mas.” Nessa kembali melanjutkan. “Kalau gitu thanks ya Mas, sorry ganggu pagi-pagi.”
“Okay. No problem, Ness.”
“Masih curiga?” tanya Rafly yang langsung mendapat gelengan kepala dari Nessa.
“Aku cuman khawatir sama kamu, Mas. Ini pertama kalinya kamu pergi dari rumah dan gak pulang semalaman,” tuturnya mencoba menjelaskan.
“Aku mau mandi. Mau siap-siap ke kantor.” setelah mengatakan itu, Rafly melangkah menuju lantai dua. Meninggalkan Nessa yang setengah hatinya masih belum terima. Ketakutannya yang lebih besar selalu memunculkan kecurigaan yang berlebihan.
3 years ago...
Gadis muda berusia 20 tahun bernama Hafizara Nessa seperti biasa melakukan pekerjaannya sebagai staff marketing junior di salah satu perusahaan asuransi yang lumayan terkenal di Jakarta.
Ia dikenal sebagai karyawan yang baik, ramah, dan cepat dalam bekerja. Meskipun masih junior, namun Nessa merupakan karyawan yang cepat tanggap dalam meresap ilmu baru sehingga tidak susah untuk mengajarinya.
“Ness, sekarang kamu ikut saya ketemu klien, ya. Saya tunggu di lobi,” ucap Rafly saat melewati meja kerja Nessa. Ia adalah staff marketing senior yang ditugaskan untuk membimbing staff marketing junior sampai akhirnya bisa dilepas sendiri.
“Baik, Pak. Saya siap-siap dulu.” Nessa selalu senang jika terlibat langsung pekerjaan dengan Rafly. Sejak awal masuk perusahaan ini beberapa minggu yang lalu, Nessa sudah jatuh hati kepada Rafly. Apalagi ketika tahu siapa yang akan membimbingnya 4 bulan ke depan, Nessa hampir tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
Sering berinteraksi dengan Rafly membuat perasaan Nessa untuk lelaki itu semakin besar. Meski pada akhirnya ia tahu Rafly sudah mempunyai kekasih, namun itu tak menyurutkan niatnya untuk memiliki Rafly. Nessa tidak peduli, selama janur kuning belum melengkung dan kesempatan meraih itu ada, Nessa usahakan sebisanya. Begitu kira-kira tekadnya. Ia sudah terlanjur menaruh hati pada Rafly, tidak mungkin harus melepaskannya begitu saja.
Sampai akhirnya hari itu tiba. Sebagai staff baru, Nessa diperintahkan untuk mengikuti pelatihan yang diadakan untuk para senior sebagai bentuk pengembangan diri. Meski jadwalnya di weekend yang mana bentrok dengan perkuliahan, Nessa rela izin tidak masuk kuliah demi mengikuti pelatihan kerja bersama Rafly di Bandung.
Malam itu sekitar pukul 7 malam, semua orang kembali ke hotel untuk beristirahat setelah mengikuti kegiatan yang melelahkan selama seharian penuh termasuk Rafly dan Nessa. Keduanya memasuki kamar hotel yang sama akibat kesalahan yang tidak sengaja dibuat oleh salah satu rekannya ketika membooking hotel. Yang seharusnya 4 kamar, ia hanya membooking 3 kamar untuk 5 orang. Sialnya semua kamar sudah penuh sehingga tidak bisa memsakan dadakan.
Masalah yang kedua, Nessa adalah satu-satunya staff marketing junior perempuan yang mengikuti pelatihan ini. Dua rekan dan dua seniornya, semua laki-laki. Rafly tidak mungkin sekamar dengan Alden mengingat istrinya akan menyusul. Ia juga tidak mungkin sekamar bertiga dengan dua juniornya. Namun, bersama sekamar dengan Nessa juga bukan solusi yang benar.
“Udahlah Raf, gak apa-apa. Semalem doang besok juga kita kan balik,” ujar Alden kala itu yang langsung dipelototi oleh Rafly.
“Ya terus mau gimana? Gak ada pilihan lain.”
“Ness, gak apa-apa, nih?” tanya Rafly memandang ke arah Nessa.
“Gak apa-apa deh, Pak. Nanti gampang saya tidur di sofa.”
“Tuh Nessa aja gak apa-apa. Udahlah, nih kuncinya.” Alden memberikan kunci kamar pada Rafly lalu melenggang pergi menuju kamarnya sendiri.
Ini adalah kali kedua Nessa dan Rafly memasuki kamar hotel dengan rasa canggung yang masih sama. Meskipun dalam hati Nessa bersorak senang tapi ia tetap saja merasa gugup jika sampai satu kamar seperti ini. Ini termasuk hadiah atau musibah?
“Ness kamu bisa mandi duluan ya, saya masih ada kerjaan,” ucap lelaki itu sambil meletakkan laptopnya di atas meja kerja.
Kamar hotel tersebut memang dilengkapi dengan fasilitas meja kerja dan sofa meski minusnya bukan twin bed karena memang tidak dipesan untuk sharing.
Nessa hanya mengangguk kemudian mengambil baju dan peralatan mandi dari dalam kopernya lalu bergegas menuju kamar mandi.
Sekitar 30 menit, Nessa sudah selesai mandi namun ia bingung bagaimana keluar dengan gaun tidur yang dipakainya saat ini. Semua diluar dugaan sehingga Nessa tidak membawa baju yang lebih tertutup. Dalam hati, ia merutuki dirinya sendiri. Ia takut jika Rafly berpikir macam-macam dan membencinya setelah ini karena menganggap dirinya sengaja menggoda lelaki tersebut.
Suara ketukan pintu berhasil mengagetkan Nessa dan semakin membuatnya bingung harus bagaimana. Ia mulai panik sekarang. Apalagi ketika suara lelaki itu terdengar.
“Ness, are you okay there?”
“Belum kelar? Saya mau mandi,” ucapnya lagi.
“Ah, iya, Pak. Sa—saya sudah selesai, Kok. Sebentar.” Nessa segera mengambil baju kotornya, sambil menghela napas panjang ia menggenggam handle pintu tersebut dan membukanya.
Kontan, Rafly yang berdiri di depan pintu kamar mandi dan menyaksikan Nessa keluar, menutup kedua matanya dengan tangan. Ia mendengus. “Ness kamu udah gila ya? Hah?”
“Pak maaf saya gak bermaksud yang aneh-aneh. Ini diluar prediksi saya. Saya bener-bener gak bawa baju tidur lain lagi pak. Saya juga nggak tahu kalau akhirnya satu kamar sama Bapak.” Nessa mencoba menjelaskan dengan sejujur-jujurnya.
Rafly tidak merespond dan memilih untuk segera masuk ke kamar mandi. Nessa menggigit bibir bawahnya takut lalu segera beranjak dari sana.
Nessa duduk di ujung sisi tempat tidur mnghadap ke arah tirai jendela yang mana di belakangnya terdengar suara pintu tertutup, menandakan Rafly baru saja selesai mandi.
“Pak ...” ucap Nessa sambil meremas ujung gaun tidurnya. Ia berbicara tanpa menoleh.
“Udah gak udah di bahas, Ness. Bukan salah kamu juga. Saya juga gak mikir aneh-aneh, kok,” sanggah Rafly kemudian. Membuat Nessa menoleh.
“Tapi Pak—”
“Ness, udah ya, gak perlu di bahas.”
Nessa refleks menggigit bibir bawahnya. Hal itu dan apa yang dilihatnya saat ini membuat Rafly merasakan hawa panas disekitarnya. Ia lelaki normal dan wajar jika saat ini dirinya b*******h melihat Nessa memakai gaun tidur yang terbuka.
Sebelum semakin kehilangan akal sehatnya, Rafly memilih untuk memalingkan wajah. Ia beranjak ke meja kerjanya dan berusaha menenggelamkan pikiran sialan itu dengan menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda tadi.
Melihat itu, Nessa benar-benar tidak enak hati sehingga ia memutuskan untuk mengambil air dan memberikannya kepada Rafly sebagai permintaan maafnya.
Namun, saat Nessa hendak menyimpan gelas itu di meja, Rafly lebih dulu berdiri membuat keduanya bertabrakan. Nessa hampir saja terjatuh namun tangan sigap Rafly menyelamatkannya. Air yang Nessa bawa pun tumpah ke pakaian tipis Nessa yang membuat sesuatu tercetak jelas dibaliknya.
Melihat pemandangan yang begitu menggoda membuat Rafly benar-benar tidak bisa mengontrol pikiran liar dalam kepalanya yang bahkan sudah bersarang sejak ia mandi tadi. Dan disaat seperti ini, setan lebih banyak menjadi pemenangnya, bukan?
Perlahan, Rafly mendaratkan kepalanya di wajah Nessa kemudian melumat bibir perempuan itu dengan lembut.
Wajah Nessa terkejut, tentu saja. Rafly hendak berhenti namun tanpa disangka Nessa membalas lumatannya membuat gairah Rafly semakin menggila. Tangannya yang lain menyentuh ruas pipi Nessa singkat kemudian beralih pada leher, turun ke pundak lalu berakhir meremas buah d**a Nessa yang bulat dan ranum. Membuat gadis berusia 20 tahun itu terengah.
Itu merupakan pengalaman pertama bagi Nessa. Ia merasakan panas yang mejalar diseluruh tubuhnya serta gairah yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ciuman Rafly dan tindakan lelaki itu sungguh membuatnya melayang, meminta lebih dari sekedar remasan.
Pangutan keduanya terlepas ketika sama-sama hampir kehabisan napas. Masih dengan terengah, tatap keduanya bertemu.
“Kamu bisa berhenti sekarang sebelum terlambat,” Rafly memperingati. Karena sekali terjadi, segalanya tak mampu lagi kembali.
Namun, Nessa menggeleng. “Do it more. Please ...”
Mendapat lampu hijau tersebut, Rafly kembali melumat bibir menggoda Nessa, memapahnya ke arah tempat tidur lalu merentangkannya di sana. Ia sudah memperingatkan dan memberi kesempatan, tapi gadis itu sendiri yang menyerahkan.
Rafly melepas semua pakaiannya sampai tidak tersisa, merobek kasar gaun tidur yang dikenakan oleh Nessa dan menarik penghalang itu keluar dari paha Nessa.
Rafly meraih tubuh Nessa, kembali melumat bibir perempuan itu sambil meremas d**a yang kini membusung sempurna tanpa terhalang oleh apapun. Tidak hanya meremas ia juga mengulum, menikmati setiap inci tubuh gadis itu tanpa sisa.
Setelah puas, ia bangkit dan mulai memposisikan dirinya sebaik mungkin untuk memmasuki inti Nessa. Perlahan tapi pasti penyatuan keduanya terjadi.
Nessa mendesah keras ketika sesuatu yang asing berada dalam dirinya. Setelah 20 tahun menjaga, ia menyerahkan sepenuhnya pada Rafly, lelaki yang Nessa sendiri tidak pernah tahu bagaimana perasaan lelaki itu. Adakah rasa untuknya ataukah murni sekedar nafsu semata. Lelaki yang bukan siapa-siapa, tidak menjanjikan apa-apa bahkan entah akan menjadi takdirnya atau hanya menjadi fatamorgana.
Namun ternyata penyatuan itu berlanjut pada penyatuan-penyatuan selanjutnya. Pada panas yang membara dan pelapasan yang terus ingin keduanya capai bersama.
Nessa memejamkan matanya sejenak. Ia tidak akan pernah lupa pada kejadian itu sampai kapanpun. Bahkan, sampai saat ini Nessa masih merasa bangga jika mengingat pada akhirnya ia menjadi pemenangnya.
Benar, sudah jadi pemenang harusnya ia tidak banyak berpikir yang aneh-aneh, bukan? Nessa kemudian bangkit dari posisinya dan berusaha mengenyahkan pemikiran negatif kepada Rafly. Nessa sadar, berlebihan hanya akan membuat dirinya kehilangan segalanya.
***