Laras menunduk, pipinya merona merah bak kepiting rebus, malu dan gugup bercampur menjadi satu saat ucapan Namira menggema di telinganya. Di hadapan keluarga Daniel, rasa cemas itu seolah merayap ke dalam dadanya, membuat jantungnya berdebar kencang. Namun, tangan hangat Daniel menggenggam erat tangannya, seolah menyuntikkan keberanian sekaligus janji bahwa semuanya akan baik-baik saja. Laras menarik napas dalam-dalam, memaksa dirinya untuk tenang, lalu melangkah bersama Daniel maju mendekati keluarga sang kekasih. "Selain Tante Namira yang sudah aku kenal, aku ingin memperkenalkan diri di depan Om, Nadine dan Pak Keenan. Namaku Laras, salam kenal semuanya." Suaranya sedikit bergetar tapi tetap sopan. Dengan hati-hati, ia menjabat tangan Namira dan Robert, kemudian mencium lembut punggu
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


