Mendengar pengakuan itu, Kamila seolah tersambar petir di tengah malam yang gelap gulita. Jantungnya berdegup seperti hendak pecah, napasnya tersengal dalam ketidakpercayaan. "Jadi, maksud kamu … pria ini adalah papa kamu? Suami Mama di masa lalu?" Suaranya hampir tak terdengar, namun penuh dengan getar haru dan kebingungan. "Dan Mama … benar-benar Namira?" Nadine menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca, tangan keduanya menggenggam erat seakan ingin menularkan kekuatan. "Iya, Ma. Ini papa. Orang yang masih mencintai Mama lebih dari apapun. Walaupun papa sudah menikah lagi, aku tahu betul perasaan papa untuk Mama tidak pernah berubah." Suaranya pecah oleh air mata yang mulai menetes, seolah beban selama ini mencuat ke permukaan. Tubuh Kamila mendadak membeku, akal dan hatinya bertarung ke

