Tangan Dharma menggenggam milik Amira dengan erat sambil menatap langit malam, keduanya tengah berpelukan sambil menatap langit yang ditaburi bintang. Posisi Dharma kali ini memeluk Amira dari belakang, sementara sang istri bersandar di d**a Dharma dengan nyamannya bergelung di sana sehingga dia tidak ingin beranjak. Ternyata, Dharma mengajaknya ke sebuah desa di China. Desa yang benar benar jauh dari keramaian kota. Bahkan, katanya desa ini begitu tertutup sampai tidak menerima tamu dari luar apalagi saat ada festival seperti ini. namun, entah bagaimana caranya Amira bisa berakhir di sini. Mendengarnya kisah desa ini dari sang Nenek saja membuat Amira merasa beruntung, karena akhirnya berada di sini. “Mas, gimana kamu bisa dapet akses ke tempat ini? masa iya Cuma Cuma? Bisa di sini?”

