Cici tidak menjawab. Andy berbalik dengan gerakan kasar. Ia berjalan cepat menuju mobilnya, lalu pintu mobil dibanting keras. Beberapa detik kemudian mobil itu melaju pergi dengan suara mesin yang meraung. Keheningan menyelimuti Cici dan Gilang. Cici menarik napas panjang. Tangannya sedikit gemetar. Gilang menoleh padanya. “Kamu baik-baik saja?” Cici mengangguk pelan. “Iya.” Namun Gilang bisa melihat ketegangan di wajahnya. Ia meraih tangan Cici. Genggamannya hangat dan mantap, ingin menenangkan. “Maaf,” kata Cici pelan. “Kenapa minta maaf, Ci? untuk apa?” “Karena dia muncul lagi.” Gilang mengerutkan kening. “Ini bukan salahmu.” Cici menunduk sebentar. “Dulu aku pernah benar-benar sayang sama dia.” Gilang tidak langsung menjawab. Beberapa detik ia hanya menatap jalan ko

