Setelah menikmati empat hari di Puncak, udara Jakarta terasa berbeda bagi Arvin. Bukan karena polusinya berkurang, bukan juga karena lalu lintas mendadak ramah. Tapi karena hatinya ringan. Pagi itu ia bangun lebih dulu dari biasanya. Sinar matahari menyusup di sela tirai kamar. Zahra masih terlelap, rambutnya terurai di bantal, napasnya teratur. Arvin menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang ia sadari. Kebersamaan mereka di Puncak seperti menambal sesuatu yang sempat retak di dalam dirinya. Ia membungkuk, mengecup kening Zahra pelan. Dia tidak tega membangunkan Zahra, jadi dia bangun dan bersiap-siap sambil menjaga suasana tetap hening. Hari ini dia harus berangkat lebih awal. Arvin mengecup kening istrinya sekali lagi. “Aku berangkat dulu, ya,” bisiknya. Zahra mengerjap, se

