Zahra berbalik sedikit, cukup untuk menyandarkan kening ke da-da Arvin. Ia merasakan detak jantung pria it, stabil dan menenangkan. “Aku nggak butuh kamu jadi sempurna,” kata Arvin pelan. “Aku cuma butuh kamu jujur sama perasaanmu, dan jangan menyiksa dirimu dengan memikirkan hal-hal yang nggak penting.” Zahra memejamkan mata. Ia juga menginginkan itu, tapi pikirannya seringkali bergerak mengikuti perasaan. Ini mungkin karena sejak kecil hidup di panti asuhan, ada perasaan tidak aman yang terus membayanginya. Perasaan aman itu mulai dia rasakan setelah dewasa itupun masih sering goyah, seperti saat dia ditindas oleh mantan suaminya. Zahra membuka matanya, merasakan keberadaan Arvin, menghidu keharuman khas aftershavenya. “Mas, tolong peluk aku sebentar lagi,” pintanya lirih. Arvin ter

