Julian sadar dari tadi ada orang yang mengikuti dirinya. Bahkan sebelum mereka turun dari bukit, ia sudah merasakan tatapan asing itu. Namun ia memilih diam, tidak mau mengganggu suasana Ryujin yang sedang bahagia. Begitu mereka masuk mobil dan melaju menuju pusat kota, Julian menoleh sekilas lewat kaca spion. “Dua orang, mobil hitam, jarak delapan puluh meter,” gumam Julian pelan. Ryujin memandangnya bingung. “Apa? Kamu ngomong apa?” Julian tersenyum tipis. “Bukan apa-apa. Aku cuma pastikan jalanan aman.” Ryujin menatapnya lama, merasa ada sesuatu yang disembunyikan, tapi ia memilih diam. Julian mengambil ponselnya, menekan satu kontak tanpa berkata apa-apa, hanya menjentikkan jari pelan. Detik berikutnya suara berat seseorang menjawab, “Siap.” Julian berkata singkat, “Tiga orang. M

