Luna menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kafe, satu alisnya terangkat tinggi sejak tadi. Tatapannya tidak lepas dari Ryujin yang duduk di depannya, gelas minuman di tangan bahkan sudah hampir tidak disentuh sama sekali. Ryujin kembali menghela napas. Pelan, tapi jelas. Untuk kesekian kalinya. “Kalau kamu tarik napas lagi,” ujar Luna sahntai, “aku bisa pikir kamu lagi latihan pernapasan buat melahirkan.” Ryujin mendongak, menatap sahabatnya dengan ekspresi datar. “Aku serius, Lun.” “Aku juga serius ngamatin kamu dari tadi,” balas Luna. “Kening kamu sudah berkerut kayak mau rapat direksi.” Ryujin menunduk, jemarinya memainkan sedotan. “Aku bingung.” “Bingung kenapa?” Luna mendekat sedikit. “Masalah dunia? Rumah tangga? Julian? Atau—” matanya melirik ke arah stroller kecil di sam

