Keputusan itu tidak datang dengan mudah. Maverick duduk sendirian di ruang kerja besarnya, lampu kota London terlihat buram dari balik jendela kaca yang menjulang tinggi. Tangannya gemetar saat layar ponsel kembali memutar video yang sama. Video yang telah menghancurkan seluruh sisa pertahanannya. Istrinya. Wajah perempuan yang selama ini menjadi alasan Maverick bertahan hidup, kini tampak pucat, rambutnya kusut, matanya cekung. Gudang tua dengan dinding beton lembap menjadi latar belakangnya. Tidak ada luka fisik yang terlihat jelas, tetapi suara dalam video itu cukup untuk merobek jantung siapa pun yang mendengarnya. Permohonan lirih, suara serak, tangisan yang ditahan-tahan. Bukan jeritan, bukan teriakan. Justru itulah yang membuat Maverick runtuh. Istrinya tidak lagi memohon dengan

