Luna akhirnya kembali dari liburannya di Bali. Ia membawa beberapa tas besar berisi oleh-oleh, mulai dari pakaian khas Bali, gantungan kunci lucu, hingga camilan tradisional yang harum dan manis. Begitu ia membuka pintu rumah Ryujin, senyum manisnya langsung tersenyum, “Ryujin, aku pulang! Aku bawa banyak oleh-oleh buatmu dan Jasmine.” Ryujin menatap Luna, wajahnya sedikit tegang. Ia memandang tas-tas yang dibawa Luna, tapi bukan rasa senang yang muncul, melainkan rasa marah yang memuncak. Mata Ryujin menyipit dan bibirnya mengeras. Ia menatap Luna dengan tatapan dingin, seperti mencoba membaca isi hati wanita itu. “Luna… kau pikir ini lucu?” suara Ryujin terdengar tinggi dan tegas, membuat Luna sedikit mundur kaget. “Kau pergi ke Bali, jalan-jalan, bersenang-senang… dan tidak memberi ta

