Julian 38

2560 Kata

Pagi di apartemen Julian terasa tegang sejak detik pertama matahari menembus tirai. Aroma roti panggang dan daging asap menyebar di udara—bukan aroma yang biasanya muncul dari dapur pada jam segini. Biasanya, Julian yang paling awal bangun, disusul Ryujin. Luna? Ia hampir selalu bangun terakhir, apalagi setelah malam penuh tangis dan emosi seperti semalam. Tapi hari ini berbeda. Begitu Luna keluar dari kamar dengan rambut berantakan dan mata masih bengkak, ia langsung melihat Ryujin berdiri anggun di dapur, memakai apron satin mahal yang seakan melekat sempurna pada pinggang rampingnya. Wanita itu mengiris buah dengan kecepatan dan ketepatan yang membuatnya terlihat seperti istri profesional yang telah mempersiapkan hidupnya untuk posisi itu. Ryujin tidak menoleh ketika Luna mendekat. I

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN