Pagi itu Arman masih duduk di ruang tamu apartemennya dengan tumpukan berkas di meja. Rambbutnya berantakan, dasinya sudah ia lepas sejak semalam. Layar laptop masih menyala, menampilkan grafik yang belum juga membuatnya tenang. Ia baru saja menutup panggilan dengan tim keuangannya ketika bel pintu berbunyi. Arman mengerutkan kening. Ia tidak menunggu siapa pun. Ia berdiri, berjalan ke pintu, dan membukanya dengan sedikit waspada. Begitu pintu terbuka, ia langsung melihat sosok yang beberapa hari terakhir justru paling sering ada di pikirannya. Julian. “Pagi,” kata Julian dengan nada tenang, seolah mereka hanya dua sepupu yang bertemu untuk minum kopi. Arman menatapnya beberapa detik, lalu berkata datar, “Kamu mau apa ke sini?” Julian tersenyum tipis. “Boleh masuk? Kita bicara sebent

