Jam di dinding perlahan menunjuk angka sembilan malam. Rumah sudah tenggelam dalam ketenangan yang khas setelah bayi tertidur. Dari kamar Jasmine tidak terdengar apa pun selain dengusan napas kecil yang tehratur, tanda tidur nyenyaknya tidak terganggu. Lampu tidur kecil di kamarnya memancarkan cahaya temaram, cukup untuk menenangkan, tidak terlalu terang. Ryujin menutup pintu kamar Jasmine dengan sangat pelan, seolah sedikit saja suara bisa memecah keheningan. Ia berdiri sejenak di depan pintu, memastikan tidak ada suara lanjutan dari dalam. Setelah yakin, ia berbalik dan melangkah mjenuju ruang tengah. Julian sudah menunggu di sana. Ia duduk di sofa sambil memegang ponselnya, tapi jelas pikirannya tidak sepenuhnya ada di layar. Begitu Ryujin muncul, ia langsung berdiri. “Tidur?” tanya

