168~BC

1848 Kata

“Halo.” Ranu menyapa Ciara yang duduk di samping jendela kaca di kamarnya. Ciara menoleh sekilas. Ia hanya tersenyum tipis, lalu kembali memalingkan wajah. Menatap pemandangan kota dan gedung pencakar langit yang terbentang di hadapannya. “Aku masuk, ya,” ucap Ranu sambil melangkah masuk menghampiri Ciara. Berdiri di belakang adik iparnya. “Makan siang di luar yuk. Di bawah aja, nggak usah jauh-jauh. Atau, di atas juga nggak papa.” Ciara menggeleng tanpa menoleh. “Aku di sini aja.” Ranu menatap Ciara dan menghela napas pelan, membiarkan keheningan ada di antara mereka barang sejenak. Ia merasa iba melihat kondisi adik iparnya yang tampak begitu rapuh. Tatapannya kosong, seolah tidak memiliki semangat hidup sama sekali. Ranu menyadari, semua kejadian pahit yang dialami Ciara bukanla

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN