“Kata Ranu, semalam sudah nggak muntah-muntah,” ujar Cinta melihat penampilannya sekali lagi di depan cermin, “Kalau hari ini sudah enakan, besok mungkin bisa keluar dari rumah sakit, terus lusa baru pulang.” “Bulan madu macam apa itu,” cibir Bias lalu mencium pipi Cibi di gendongannya, “harusnya mereka bisa–” “Eit!” Cinta meletakkan telunjuk di bibirnya. “Didengar Cibi. Nggak boleh ngomong sembarangan.” Cinta keluar kamar lebih dulu. “Tunggu di depan, aku panggil mbak Denok dulu.” Bias berjalan santai di belakang Cinta dan tidak membalas ucapan istrinya. Ia sibuk bicara dengan putrinya dan terus berjalan menuju teras rumah. Menunggu Cinta yang sedang sibuk mempersiapkan segala sesuatunya dengan Denok. Harusnya, hari ini Altaf menghadiri rapat direksi di SabdaTama. Namun, karena kondis

