“Enak banget hidupmu,” ujar Dinda sambil duduk di samping Cinta setelah mengambil es teler dari meja buffet, “dari tadi anaknya dipegang sama omanya.” Cinta menutup mulut sesaat karena menguap. “Enak dong. Selain bisa dititipin omanya, anakku juga bisa dititipin sama mbak Denok atau bu Sumi. Mamanya tinggal rebahan, tidur. Bentar lagi mau dicariin baby sitter juga. Kurang apa coba?” “Eh! Jangan cari yang muda,” ujar Dinda memperingatkan, “cari yang sudah emak-emak, tapi yang masih kuat. Buat jaga-jaga aja, untuk mengantisipasi sesuatu yang tidak diinginkan.” Cinta mengangguk setuju atas saran Dinda. “Aku belum okein masalah baby sitter, karena aku juga belum kerja. Terus, ada mbak Denok juga yang bisa bantuin, jadi belum perlu banget.” “Ssstt.” Dinda menyenggol siku Cinta, sedikit menc

