Impian Arayan

1346 Kata

Tangan Mas Arayan bergetar, Air matanya mengalir dengan deras dan badannya pun lemas. Anak mana yang tidak kaget melihat Ibu yang telah lama menghilang dalam keadaan memprihatinkan. Umi Farah tinggal di rumah Eyang Marwa setelah menyaksikan suaminya menikah lagi. Beliau yang awalnya mengatakan Ikhlas dimadu nyatanya kini terpuruk dan tubuhnya terlihat sangat kurus. Keluargaku dan keluarga Umi Fatim sampai di Sleman pukul 4 pagi. Kami sengaja berangkat dini hari agar tidak ada penguntit berkamera mengikuti kami. “Gak mau masuk ke dalam kamar?” tanya Mama. Mas Arayan tidak menjawab dan aku tidak bisa bergerak karena tubuhnya bersandar padaku. Mama membelai lembut kepala menantunya, setelah itu pergi ke depan menyusul Papa. Tinggal aku, Mas Arayan dan Umi Fatim yang berada di sini. Tepa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN