Sudah satu minggu Dayana mencoba menghindar. Dia mengatakan sedang datang bulan dan Daffian sama sekali tidak menyentuhnya. Namun malam ini terasa lain, karena Daffian menanyakan apakah datang bulan Dayana sudah selesai atau belum. Dayana pun sadar tak bisa menghindar lebih lama lagi. Dayana memandang pantulan dirinya di cermin. Ia sungguh tidak rela memberikan kesuciannya pada Daffian meski saat ini pria itu sudah resmi menjadi suaminya, tapi Dayana tidak bisa mengelak lagi. "Aku harus bagaimana?" Dayana memejamkan matanya dramatis. "Tidak apa-apa, Day, kamu lakukan ini demi Kak Nia. Kamu harus membalasnya dengan cara apa pun." Ia meyakinkan dirinya sendiri, mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja dan semua ini demi sang kakak walau Dayana harus berkorban. Setelah menenangkan di

