09. Berterima Kasih pada Shenina?

847 Kata

Emmeline kembali ke ruang makan beberapa menit kemudian, kali ini tidak sendiri. Di sisinya, sang Ayah melangkah dengan wajah tenang yang terlalu kaku untuk disebut ramah. Kemeja rumahnya rapi, kancing atas terbuka satu, namun wibawa itu tetap utuh. Wibawa seorang kepala keluarga yang kehadirannya selalu mengubah atmosfer ruangan, bahkan sebelum ia berbicara. Langkah mereka berhenti di ambang ruang makan. Nathaniel berdiri lebih dulu, disusul Shenina yang ikut bangkit dengan senyum sopan. Joceline menyusul setengah berdiri, refleks yang tertanam sejak kecil, meski dadanya sudah lebih dulu mengencang. “Jo,” sapa Ayahnya akhirnya. Nadanya datar. Tidak dingin, tidak hangat. Hanya… formal. “Ayah,” jawab Joceline pelan. Ia bangkit setengah berdiri sebagai bentuk sopan santun, lalu kembali du

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN