Nathaniel melangkah dengan kaki yang terasa berat dan goyah. Setiap inci tubuhnya terasa ngilu akibat pukulan Maxime, tapi rasa sakit itu sama sekali tidak sebanding dengan hantaman kenyataan yang kini meremukkan dadanya. Bau antiseptik dan hawa dingin dari ruang jenazah menyergapnya, membuat bulu kuduknya meremang. Di tengah ruangan yang sunyi itu, ada sebuah brankar. Di atasnya, terbujur kaku sesosok tubuh yang seluruhnya tertutup kain putih. Nathaniel berhenti tepat di samping brankar. Tangannya yang gemetar terulur, ragu untuk menyentuh kain itu. Ia berharap ini hanyalah mimpi buruk, bahwa saat ia menyibak kain itu, ia akan menemukan orang lain, bukan Joceline. "Jo..." bisiknya parau. Suaranya pecah, seolah pita suaranya baru saja disayat sembilu. Perlahan, Nathaniel menarik kain

