26. Si Bodoh yang Cemburu

1245 Kata

Sore itu, aroma kopi hitam dan udara dingin dari pendingin ruangan di kantor pribadi Maxime menjadi saksi bisu dari sisa-sisa sesak di d**a Joceline. Ia duduk di sofa kulit yang empuk, menatap kosong ke arah jendela besar yang menampilkan siluet gedung-gedung Jakarta yang mulai bersiap menyambut malam. Wajahnya tampak pucat, namun tatapan matanya tetap tegas seolah siapapun tidak diperbolehkan melihat kerapuhannya. Ia baru saja menceritakan inti dari ‘percakapan sarapan’ tadi pagi dengan Nathaniel tanpa bumbu air mata, seolah ia sudah terbiasa dengan itu. ​“Setidaknya aku sudah tidak penasaran lagi dengan perasaannya, Max. Memang sudah tidak ada aku di sana sejak lama. Aku hanya terlalu naif mengartikan sikap kasarnya sebagai bentuk perhatian,” tutur Joceline dengan suara yang tenang, ny

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN