Proses diskusi pelaminan akhirnya ditutup dengan keputusan final yang rapi dan profesional seperti semua hal yang selalu Joceline kerjakan. Setelah klien terakhirnya meninggalkan studio, ia masih sempat memeriksa beberapa berkas di mejanya ketika Rista menghampiri dengan tablet di tangan dan raut wajah yang tampak sedikit ragu. “Mbak Jocé,” ucap asistennya pelan, “klien untuk pernikahan Shenina dan Nathaniel sudah tiba.” Joceline tidak langsung menoleh. Ia hanya mengangguk sambil menandai satu catatan terakhir di layarnya. “Suruh mereka menunggu di ruang fitting. Aku menyusul sebentar lagi.” Beberapa menit kemudian, Joceline melangkah masuk ke ruang fitting dengan langkah terukur dan profesional hingga langkahnya terhenti tepat di ambang pintu. Di dalam ruangan itu, hanya ada satu sosok

