16. Tepati Janjimu

1285 Kata

Pukul empat pagi, Joceline terbangun lebih dulu. Tubuhnya kaku saat kesadarannya perlahan kembali. Cahaya kota masih temaram di balik celah gorden, dan napas Nathaniel terdengar teratur di sisinya. Hangat, berat, lengannya melingkar erat seolah takut kehilangannya bahkan dalam tidur. Untuk sesaat, Joceline hanya diam. Menatap wajah itu dari jarak sedekat ini, tanpa amarah, tanpa jarak, tanpa kebencian rasanya entah kenapa membuat hatinya menghangat. Pria yang pernah ia cintai, pria yang dikehidupan mana pun tidak lagi menjadi miliknya, nyatanya masih sangat ia inginkan. Ah, betapa tidak tahu dirinya kamu Joceline. Dengan hati-hati, ia mengangkat lengan kokoh itu pelan, nyaris menahan napas. Takut jika satu gerakan ceroboh akan membangunkan Nathaniel dan menghancurkan keputusan yang sed

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN