Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden apartemen terasa seperti hantaman keras bagi kesadaran Nathaniel. Ia terbangun di atas ranjang yang masih berantakan, menyadari bahwa ia sendirian. Keheningan di kamar itu justru membuatnya merasa sangat gila. Ia baru saja mengulang kebodohan yang sama untuk kedua kalinya bersama orang yang sama. Dengan geraman rendah, Nathaniel memijit pelipisnya yang berdenyut, merutuki kontrol dirinya yang hancur berkeping-keping setiap kali berhadapan dengan wanita itu. Ia segera bangkit, memungut pakaiannya yang terserak di lantai, dan mengenakannya kembali dengan terburu-buru seolah ingin segera pergi dari tempat itu. Saat ia melangkah keluar dari kamar, aroma gurih mentega dan kopi segar langsung menyapa indranya. Ia menemukan Jocelin

