Pagi harinya, sesuai janjinya semalam, Leonel menuruti keinginan Tiana. Mereka kembali ke kota dan langsung menuju Rumah Sakit Medika. Sepanjang lorong rumah sakit, Tiana menggandeng tangan kanan Leonel erat-erat. Matanya terus mengawasi lengan kiri suaminya seolah lengan itu terbuat dari kaca tipis yang mudah pecah. Setibanya di bagian perawatan bedah, mereka diarahkan ke ruangan Dokter Salsabila Aghniya. "Selamat pagi. Silakan duduk, Pak. Biar saya periksa lukanya," sapa Dokter Salsa dengan ramah saat mereka masuk. Leonel baru saja duduk dan hendak membuka kancing kemejanya, namun Tiana sudah maju selangkah mendekati meja pemeriksaan. "Dokter, tolong obatin luka suami saya pelan-pelan ya," ucap Tiana dengan nada cepat dan bawel. "Kemarin lukanya cuma dijahit darurat pakai alat se

