Denyut di pelipis Tiana terasa seperti hantaman palu yang berulang. "Ah, apa sih." Ia mengerang pelan, berusaha mengumpulkan nyawanya yang seolah tertinggal di dasar gelas sampanye semalam. "Badanku sakit semua." Saat ia mencoba menggerakkan bahunya, rasa pegal yang asing menjalar ke seluruh sendi, membuat kesadarannya perlahan pulih. Tiana menarik napas panjang, lalu perlahan membuka mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah halusnya seprai yang sangat dingin menyentuh kulit punggungnya. Ia mencoba bangkit untuk mencari air minum, namun gerakannya terhenti saat ia menyadari bahwa ia tidak merasakan pakaian di tubuhnya. Ia menunduk, melihat ke balik selimut. Matanya membelalak sempurna. Kulit putihnya kini dipenuhi bercak kemerahan yang tersebar merata dari d**a hingga paha. "A

