Leonel perlahan melepaskan ikatan jubah mandinya. Kain hitam itu meluncur turun dari bahunya, jatuh ke lantai tanpa suara, membiarkan tubuh atletisnya yang penuh otot terpampang nyata di depan mata Tiana. Namun, bukan d**a bidang atau perutnya yang keras yang membuat mata Tiana membulat sempurna. Pandangan Tiana jatuh ke bawah, pada bagian kejantanan Leonel yang sudah bangun sepenuhnya. Tegak, besar, dan tampak begitu memancing. "Leon..." Tiana terkesiap, tangannya menutup mulutnya sendiri. Wajahnya yang sudah merah kini terasa terbakar. "Itu ... itu besar sekali. Memangnya ... memangnya itu benar-benar bisa masuk ke aku?" Leonel mengembuskan napas berat, mencoba menjaga kewarasannya saat melihat ekspresi syok Tiana yang begitu jujur. "Dia fleksibel, Tiana. Dan tubuhmu ... tubuhm

