Ia memukul d**a bidang yang ada di depannya.
"Lepasin aku, nggak!"
"Diam, Tiana."
"Lepas!!"
"Kepalamu terlalu panas sejak semalam. Aku hanya membantumu sedikit lebih tenang," ucap Leonel datar.
Leonel sangat tenang, seolah tidak gentar. Namun Tiana terus meronta.
Tiana mencoba menyikut perut Leonel, namun dengan satu gerakan yang sangat cepat dan terhitung, Leonel menangkap kedua tangan Tiana dan menguncinya di belakang punggung gadis itu.
Ia menekan tubuh Tiana hingga punggung gadis itu membentur dinding marmer yang dingin, sementara tubuh panas Leonel menghimpitnya dari depan.
"Lepaskan aku, b******k! Kamu pikir kamu siapa—"
"Aku suamimu," potong Leonel.
"Nggak!" pekik Tiana.
"Kamu tidak mengakui suamimu, hem?"
Ia menundukkan kepalanya, mematikan pemberontakan Tiana hanya dengan tatapan matanya yang sangat tajam dan dingin.
"Dan di rumah ini, kamu tidak punya kekuatan untuk melawanku. Lihat dirimu, Tiana."
Tiana menunduk dan seketika ia membeku. Gaun tidurnya basah hingga menjadi transparan.
Ia merasa benar-benar telanjang di bawah tatapan Leonel.
Rasa malu yang luar biasa bercampur dengan getaran aneh mulai merambat dari ujung kakinya.
Leonel menggunakan satu tangannya yang bebas untuk mengusap sisa air yang mengalir di leher Tiana.
Gerakannya sangat lembut, namun tekanan jarinya pada titik nadi di leher Tiana membuat gadis itu merasa kehilangan seluruh kekuatannya.
Leonel tahu persis di mana letak titik sensitif yang bisa membuat saraf Tiana lumpuh seketika.
"Kamu ingin terus memberontak dan membuatku kehilangan kesabaran, atau kamu ingin tetap berdiri di sini dan menikmati bagaimana air ini membuat tubuhmu bereaksi?" bisik Leonel tepat di depan bibir Tiana.
Tiana terengah, uap panas yang tadi memenuhi ruangan kini telah berganti dengan hawa dingin yang menusuk dari pancuran air.
Namun, rasa dingin itu sama sekali tidak membantu saat matanya yang terbelalak tak sengaja menyapu ke arah bawah.
Untuk pertama kalinya, ia melihat segalanya.
Dada bidang Leonel yang keras dengan sisa-sisa air yang mengalir di atas otot-otot perutnya yang terpahat sempurna.
Hingga ke bagian bawah, di mana kejantanan Leonel yang sudah menegang sempurna terpampang nyata di depan matanya.
"Apa itu?"
Tiana merasakan wajahnya seperti terbakar, ia segera menutup mulutnya dengan satu tangan yang sudah terbebas, mencoba meredam pekikan syok yang hampir lolos.
Ia memalingkan wajahnya dengan kasar ke arah dinding marmer yang basah, jantungnya berdebar sangat kencang hingga telinganya berdenging.
"Jangan berpaling, Tiana," suara Leonel terdengar lebih rendah, serak, dan sangat berbahaya.
Dengan gerakan yang sangat cepat namun penuh perhitungan, Leonel mencengkeram rahang Tiana, memaksa gadis itu untuk kembali menatapnya.
Tiana mencoba melawan, namun tenaganya hilang.
"Lihat aku. Bukankah ini yang kamu inginkan semalam? Berhenti bersikap munafik seolah kamu tidak menyukai apa yang kamu lihat," bisik Leonel.
Leonel semakin menghimpit tubuh Tiana.
Tiana bisa merasakan setiap lekuk tubuh Leonel yang keras dan panas menekan miliknya yang mulai melunak.
Air dingin terus mengguyur mereka, namun di antara sela-sela paha Tiana, rasa panas yang membara mulai menjalar, membuatnya basah oleh gairah yang ia benci.
"Aku membencimu ... Leonel ... berhenti," rintih Tiana, namun suaranya justru terdengar seperti desahan tertahan yang memalukan.
Leonel tidak langsung menyerang bibir Tiana dengan kasar.
Ia justru memiringkan kepalanya, membiarkan ujung hidungnya bergesekan pelan dengan pipi Tiana yang basah.
Hembusan napas Leonel yang panas terasa sangat kontras dengan guyuran air dingin, menciptakan sensasi menggelitik yang membuat Tiana tanpa sadar menarik napas pendek.
Jari-jari Leonel yang tadinya mencengkeram rahang Tiana kini melunak, ibu jarinya bergerak perlahan mengusap bibir bawah Tiana yang bergetar.
"Kenapa kamu gemetar, Tiana? Jika kamu benar-benar membenciku, seharusnya tubuhmu tidak sedingin ini menanti sentuhanku," bisik Leonel rendah.
Perlahan, Leonel mendekat. Bibirnya hanya menempel tipis di sudut bibir Tiana, memberikan kecupan-kecupan kecil yang sangat ringan, hampir seperti godaan.
Tiana tetap diam, ia memejamkan matanya erat-erat, tangannya mengepal di sisi tubuhnya.
Ia bertekad untuk tidak membalas, untuk tetap menjadi batu.
Namun, cara Leonel menciumnya kali ini terasa berbeda.
Leonel mulai menyesap bibir atas Tiana, lalu beralih ke bibir bawahnya, memberikan hisapan-hisapan lembut yang dalam.
Tiana merasakan sengatan listrik yang aneh mulai merambat dari bibirnya menuju ke seluruh tulang belakangnya.
Rasa kesal yang tadi membara di dadanya perlahan tertutup oleh sensasi aneh yang ... enak.
Tanpa Tiana sadari, kepalan tangannya mulai mengendur.
"Buka mulutmu," perintah Leonel di sela ciumannya.
Tiana seolah terhipnotis.
Saat Tiana sedikit membuka mulutnya untuk mengambil napas, Leonel langsung memanfaatkannya.
Lidahnya masuk, menyapu rongga mulut Tiana dengan gerakan yang sangat lihai.
Tiana mengeluarkan suara rintihan kecil yang tenggelam di antara gemericik air.
Ia benci kenyataan bahwa ia mulai menikmati cara lidah Leonel menjelajahinya.
Rasa hangat mulai berkumpul di perut bawahnya, membuat kakinya terasa lemas.
Tiana yang tadinya kaku kini mulai bersandar sepenuhnya pada d**a bidang Leonel. Apa dia sudah menyerah, tidak mungkin.
Leonel menyadari perubahan reaksi tubuh Tiana. Ia menarik rambut Tiana sedikit ke belakang, membuat leher jenjang gadis itu terekspos, lalu ia mulai menciumi rahang hingga ke bawah telinga Tiana.
"Katakan padaku, Tiana. Apa ini masih terasa seperti kebencian?" bisik Leonel, suaranya yang berat kini terdengar sangat memuaskan di telinga Tiana yang sensitif.
Tiana tidak bisa menjawab.
Ia hanya bisa mendongak, membiarkan air pancuran membasahi wajahnya sementara ia mencoba menata napasnya yang sudah kacau balau.
Leonel yang merasakan perlawanan Tiana telah melunak, segera bertindak lebih.
Ciuman itu menjadi liar, penuh dengan nafsu.
Tiana merasa dunianya berputar. Lidah Leonel menyapu dengan rakus, dan tangan pria itu mulai merayap liar di lekuk tubuhnya yang basah kuyup.
"Ahhh... Leon..."
Sebuah desahan kecil lolos dari bibir Tiana, suara yang sangat asing bagi telinganya sendiri.
Mata Tiana terbuka lebar. Ia tersadar sepenuhnya. Apa yang baru saja aku lakukan?
Aku mendesah untuk pria yang memaksaku semalam?
Pria yang mabuk dan merobek pakaianku?
Tiana merasakan dorongan adrenalin yang luar biasa. Dengan sisa tenaga yang ia punya, ia meletakkan kedua tangannya di d**a bidang Leonel dan mendorong pria itu sekuat tenaga.
Leonel yang sedang tenggelam dalam cumbuan itu sedikit terhuyung ke belakang, tidak menyangka Tiana akan melawan sekuat itu di tengah momen mereka.
"Jangan sentuh aku! Jangan berani-berani kamu menyentuhku lagi!" teriak Tiana dengan suara bergetar hebat.
Matanya yang berkaca-kaca menatap Leonel dengan campuran rasa benci dan takut pada diri sendiri.
Tiana tidak menunggu jawaban. Ia segera berbalik, kakinya yang masih lemas dipaksa untuk berlari keluar dari area pancuran.
Ia terpeleset sedikit di lantai yang licin, namun ia tidak peduli.
Dengan tangan gemetar, ia menyambar handuk besar yang tergantung di dekat pintu dan segera keluar dari kamar mandi secepat kilat.
Ia berlari menuju sudut kamar yang paling jauh dari arah kamar mandi, membalut tubuhnya yang masih basah kuyup dengan handuk, sambil terengah-engah.
Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat.
Tiana memegangi bibirnya yang terasa panas dan membengkak.
"Bodoh! Kamu bodoh, Tiana!" umpatnya pada dirinya sendiri dalam hati.