Napas Tiana memburu hebat saat Leonel melepaskan ciuman mereka sejenak. Dada mereka berdua naik turun dengan irama yang kacau. Jarak wajah mereka hanya tinggal beberapa sentimeter. Tiana bisa melihat kabut gairah yang pekat di mata suaminya yang biasanya dingin dan penuh perhitungan itu. ​Leonel menatap bibir Tiana yang bengkak dan merah. Ibu jarinya bergerak mengusap bibir bawah Tiana dengan gerakan lambat yang menyiksa. ​"Kamu agresif sekali malam ini Tiana," bisik Leonel dengan suara serak yang membuat bulu kuduk Tiana meremang. ​Tiana tidak menjawab. Dia hanya menatap Leonel dengan pandangan sayu. Otaknya sudah tidak bisa memproses rasa malu. Tubuhnya terlalu sibuk menikmati sensasi listrik yang mengalir di setiap sarafnya. ​"Kenapa diam? Tadi kamu yang menyerang aku lebih du

