Nicolas memiringkan kepalanya sedikit. “Dan kalian semua sudah terlambat menyadarinya.” Koridor mansion menjadi sunyi. Senjata masih saling mengarah. Maxim berdiri di depan Gwen tanpa bergerak sedikit pun. Tatapannya dingin. “Lepaskan dia,” kata Maxim pelan. Nicolas tersenyum tipis. “Aku baru saja sampai,” katanya santai. “Kenapa harus terburu-buru?" Ia melirik Don Lorenzo yang masih ditahan oleh salah satu anak buahnya. Pistol masih menempel di pelipis pria tua itu. Jack menggertakkan gigi. “Bos, kita tidak bisa menunggu lebih lama.” Namun Maxim tidak menjawab. Matanya hanya tertuju pada Nicolas. Udara di koridor terasa semakin berat. Nicolas kemudian menghela napas kecil. “Baiklah,” katanya pelan. Ia mengangkat pistolnya perlahan. Laranya mengarah tepat ke d**a Maxim.

