Pagi datang terlalu cepat. Cahaya tipis menyelinap di balik tirai gelap, memotong hangatnya ruangan yang semalam terasa seperti dunia yang terpisah dari segalanya. Maxim sudah terjaga. Matanya terbuka, namun ia tidak bergerak. Lengannya masih melingkari Gwen yang tertidur di dadanya. Tenang. Damai. Sesuatu yang hampir tidak pernah ia lihat di dunia mereka. Ia menatap wajah Gwen lama. Menghafal lagi. Seperti semalam belum cukup. Ujung jarinya bergerak pelan, menyingkirkan helai rambut yang menutupi wajah Gwen. Gwen sedikit bergerak. Namun tidak bangun. Maxim menahan napas sejenak. Seolah bahkan suara kecil bisa merusak momen itu. Lalu perlahan, sangat perlahan, ia mencium kening Gwen. Lama. “Maaf,” bisiknya. Suaranya hampir tidak terdengar. Namun cukup untuk mengubah segalany

