Gwen duduk di sofa, satu tangan memegang secangkir teh hangat, tangan lainnya bertumpu di perutnya yang masih nyaris tak terlihat. Napasnya teratur, tapi pikirannya tidak. Pintu apartemen terbuka pelan. Maxim masuk tanpa suara berlebihan, seperti biasa. Ia meletakkan mantel, lalu berhenti ketika melihat Gwen. “Kau belum tidur,” katanya. Gwen menggeleng. “Dia menendang.” Satu kalimat sederhana, tapi cukup membuat Maxim mendekat. Ia duduk di hadapannya, lalu berlutut perlahan. Tangannya menyentuh perut Gwen hati-hati, seolah menyentuh sesuatu yang rapuh sekaligus sakral. “Dia keras kepala,” gumamnya. “Pasti mirip kau.” Gwen tersenyum tipis. “Atau mirip ayahnya.” Maxim mendongak. Tatapan mereka bertemu. Tak ada pertanyaan di sana. Tak ada kebingungan. Anak itu milik mereka berdua fakt

