Lift privat berhenti di lantai teratas gedung Blackstone Holdings. Pintu terbuka perlahan. Ruang kerja luas itu gelap, hanya diterangi cahaya kota yang menembus dinding kaca. Di tengah ruangan, seorang pria berdiri tegap menghadap jendela, kedua tangan bertaut di belakang punggungnya. Dante Blackstone. Usianya tak lagi muda, tapi aura kekuasaan di sekelilingnya jauh lebih tajam dari siapa pun. Rambutnya mulai memutih di pelipis, setelannya sempurna, suaranya selalu tenang sebelum badai. Hera melangkah masuk tanpa suara. “Papa.” Dante tidak langsung berbalik. “Romano sudah membaca tekanan kita,” ucapnya datar. “Distribusi mereka melambat. Tapi tidak runtuh.” Hera berjalan mendekat, melepas sarung tangan hitamnya satu per satu. “Maxim tidak pernah runtuh,” jawabnya pelan. Dante ak

