Malam itu, Maxim tidak pulang. Ia berdiri di balkon apartemennya hingga fajar menyingsing, rokok demi rokok habis tanpa benar-benar ia hisap. Matanya merah, bukan karena lelah melainkan karena penyangkalan yang mulai runtuh. Semua rumah sakit sudah disisir. Semua laporan sudah diperiksa. Nama Gwen tidak pernah muncul. Seolah ia menguap dari dunia. Jack berdiri beberapa langkah di belakangnya, ragu untuk bicara. “Bos … mungkin ...” “Dia hidup!!!" potong Maxim pelan namun tegas. Tangannya mencengkeram pagar balkon. “Aku tahu dia hidup.” Karena jika Gwen mati, ia akan merasakannya. Rasa kosong itu akan berbeda. Ini bukan kehilangan ini jarak. Jarak yang disengaja. Dan kesadaran itu justru lebih menyakitkan. Enam bulan kemudian. Di sebuah kota kecil yang jauh dari hiruk-pikuk, Gwen dud

