Bab 36. Menang Tapi Kalah ~ Ending

1918 Kata

Tanah makam itu masih basah. Taburan bunga mawar putih dan melati di atas gundukan tanah merah itu menebarkan aroma wangi yang justru terasa mencekik bagi Bumi. Ia berdiri mematung di sana, mengabaikan rintik hujan yang mulai membasahi jas hitamnya. Alister sudah pulang lebih dulu dengan tubuh yang harus dipapah, sementara kerumunan pelayat sudah lama membubarkan diri. Hanya tinggal Bumi sendirian. Pria yang dulu bersumpah untuk menjadi pelindung, kini gagal menjaga nyawa yang paling ia cintai. Bumi berlutut, menyentuh nisan marmer putih itu dengan jemari yang gemetar. "Vanya... istananya sudah sepi. Kamu nggak mau bangun dan marahin aku karena jas ini basah?" Tidak ada jawaban. Hanya suara angin yang berhembus rendah. Bumi bangkit dengan susah payah, kakinya terasa seberat timah. Ia

Cerita bagus bermula dari sini

Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN