Hujan turun perlahan sore itu, membasahi halaman rumah besar yang kini benar-benar hidup. Rumah itu sekarang dipenuhi suara tawa, langkah kaki kecil, dan aroma hangat kehidupan. Indira berdiri di depan jendela kamar, menggendong putra kecilnya yang baru berusia tiga bulan. Bayi itu terlelap dengan wajah damai, seolah dunia di luar sana tak pernah menyimpan luka apa pun. Jarinya menggenggam kuat ujung piyama Indira, kebiasaan kecil yang selalu membuat d**a Indira menghangat. “Anak papa kalau tidur mirip banget sama papanya,” suara Arman terdengar dari belakang, lembut, nyaris berbisik. Indira tersenyum tanpa menoleh. “Jangan terlalu bangga. Bangun tidurnya juga mirip papanya. Sama-sama susah dibangunin.” Arman terkekeh. Ia mendekat, merangkul Indira dari samping, mengecup pelipis istrin
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


