Terik matahari siang itu membuat debu di sekitar proyek pembangunan mall melayang-layang setiap kali truk mixer keluar masuk area. Arkan berdiri di luar ruangan site office, mengenakan kemeja kerja yang lengannya sudah digulung sampai siku. Keningnya berkerut, bukan karena pekerjaan yang berat, tapi karena kesal. Dua hari berada di desa ini terasa seperti dua minggu baginya. Ia terbiasa hidup di Jakarta. Hidup dengan ritme cepat, lampu kota yang tak pernah padam, kopi mahal yang tinggal pesan lewat aplikasi, dan hiburan malam yang berjajar sepanjang jalan. Tapi di sini? Yang ada hanya warung kopi beratap seng dan suara jangkrik. Arkan hanya bisa menarik napas. Kalau bukan karena mall ini proyek besar perusahaan sekaligus proyek terbaru yang bakal jadi pembuktian kapasitas manajemen Arma

