40. Malam Di Apartemen Arman

1064 Kata

Indira duduk di ujung sofa, kedua tangannya saling menggenggam erat dalam rasa canggung dan gugup. Dari tadi dadanya berdebar tak karuan. Tadi sore saja ia sudah shock karena Arman tiba-tiba mengantarnya pulang atau lebih tepatnya membawa pulang dirinya ke apartemen pria itu tanpa persetujuan jelas. Dan sekarang, dia duduk sendirian menunggu Arman selesai mandi. Denting bel apartemen membuat Indira hampir melompat. Napasnya tertahan. Itu pasti orang yang Arman maksud. Indira bangkit, melangkah dengan hati-hati. Saat pintu ia buka, benar saja, seorang kurir berdiri dengan paper bag besar berlabel sebuah brand butik ternama. “Pengiriman untuk Pak Arman.” “Oh, iya… terima kasih.” Indira menerima paket itu sambil tersenyum canggung. Setelah menutup pintu, ia berbalik dan sontak berhenti t

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN