Indira duduk gelisah di kursi penumpang ketika mobil Arman melaju perlahan keluar dari area apartemen. Sejak tadi ia hanya memandangi jendela, pura-pura sibuk memperhatikan jalanan yang masih lengang di pagi hari. Padahal sebenarnya, hatinya seperti diaduk tanpa henti. Ini baru hari kedua bekerja bersama Arman dalam satu gedung, tapi rasanya hidupnya sudah jungkir balik. Arman sesekali melirik ke arahnya, tersenyum kecil tanpa suara. Lelaki itu seperti sedang menahan sesuatu—entah ingin menggoda dan itu hanya membuat Indira makin gugup. Tak kuat dengan suasana hening yang justru membuat degup jantungnya semakin terdengar di telinga sendiri, Indira akhirnya membuka suara. “Pak, bagaimana kalau orang kantor tahu kita semobil dan berangkat bareng kayak gini?” tanyanya sambil memegang tas d

