"Untuk apa?" Rea membantu Jaya melepas jas yang melekat di tubuhnya, lalu Rea bukakan juga dasi pak suami, sampai membuka kancing kemeja pun Rea yang lakukan. Dia terbiasa dengan ini. "Ya ... untuk nambah-nambah kegiatan supaya aku nggak bosan." Tatapan Jaya lurus di wajah putri Bu Santi. Jaya tidak bohong waktu berkata bahwa Rea masih cantik. Dan ini sudut pandang objektif, bukan karena Rea istrinya maka Jaya sebut jelita. "Sempat bosan juga kamu?" "Ya iyalah. Namanya juga aku di rumah terus, nggak ngapa-ngapain. Aku, kan, biasa sibuk dulunya." "Ikut Mas kerja lagi." "Dih. Nggak, ya. Asal jangan kerja. Aku udah malas mikir berat. Aku cuma butuh kegiatan." "Ya sudah, ikut kelas senam saja daripada sosialita." "Kalau senam, capek." Astaga. Jaya ingin menyentil bibir Rea rasanya.

