BAB 92

1622 Kata

Papi membuka pintu, menahannya, menunggu hingga Ayah dan Ibu Felicia melangkah keluar dan menghilang di sudut koridor menuju lift. Aku menghela napas panjang, terduduk lesu di kursiku. Jujur saja, aku merasa kasihan pada keduanya. Entah apa yang Felicia katakan hingga sang ayah bisa mengabulkan permintaannya melakukan veneer gigi. Dua puluh juta, bukankah itu tetap jumlah yang tak sedikit? “Kenapa, Yal?” tanya Mami. Aku menggeleng. “Just wondering... apa mereka akan baik-baik aja, Mi?” “Orangtua Felicia?” “Iya,” sahutku. Mami tersenyum. “Mama tuh punya jargon lho, Mi,” ujarku kemudian, membocorkan sedikit kebiasaan ibuku. “Bahkan untuk hal-hal remeh semisal Iyal tiba-tiba hiking sama temen-temen atau mampir di satu tempat yang nggak disangka ternyata asik... Mama suka bilang, ‘kok

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN