BAB 11-2

935 Kata

*** Perjalanan selanjutnya terasa seperti pertarungan melawan diri sendiri. Langkahku kian pendek. Napasku semakin berat. Kadang, baru beberapa langkah, aku sudah berhenti. Dan Kang Iyal, tak pernah jauh. Kami juga sempat berhenti sedikit lebih lama untuk menunaikan dua rakaat subuh di tepi jalur yang cukup datar. Dan di sana, aku mulai sadar jika aku berjalan bukan karena aku kuat. Tapi karena aku tau aku tak sendirian. Saat fajar mulai mengintip di ufuk timur, kami masih belum sampai puncak. Langit perlahan berubah. Dari hitam pekat menjadi biru gelap, lalu keunguan, lalu sedikit jingga. Indah. Namun juga menyakitkan. Karena itu berarti… waktuku hampir habis. Dan aku tak akan bisa melihat apa yang Yupi pernah lihat. “Kayaknya kita nggak bakal dapat sunrise di atas, ya Kang,” guma

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN