BAB 12-2

970 Kata

Aku terenyuh, lalu memberi anggukan. “Ibnu juga kangen Ibu.” Setelah mereka pergi, ruangan mendadak terasa terlalu sunyi. Aku masih bergeming di tempat yang sama, menatap pintu yang sudah tertutup. Lalu perlahan mengembuskan napas. “Dok…” Sari muncul di ambang pintu. “Aman?” Aku mengangguk. “Sudah pikun,” ujarku sambil mendelik ke arah luar. “Ibnu siapa, Dok?” “Nggak tau. Tadi walinya mau jelasin tapi keburu kepotong omongan si Nenek. Tebakan saya sih anaknya.” Sari tersenyum. “Dokter sabar sih.” Aku tak menanggapi pujian itu. Hanya melepas sarung tangan dan membuangnya ke tempat sampah medis. “Masih ada pasien lagi, Sar?” tanyaku. “Untuk poli gigi sudah habis, Dok. Tinggal satu pasien umum di Dokter Aster.” “Oke.” Sari mengangguk, lalu meninggalkan ruangan. Aku duduk di kursi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN