BAB 17-2

1023 Kata

“Beres, Nda?” tanya Kak Sofi. “Beres, Kak,” jawabku. “Kok nggak dicopot aja sekalian behelnya, Kak?” tanya Bian, adikku. “Lagian lo makan apa sih sampai bisa begitu? Paku?” “Lo pikir gue kuda lumping?” sahutku. “Masih tiga bulan lagi baru bisa dicopot behelnya, Bian.” Sampai di rumah, aku menyapa Mami, kakak, dan adikku lebih dulu. Duduk bersama di ruang tengah. Tak lama kemudian, berhubung malam kian larut, kami beranjak ke kamar masing-masing. “Besok ke kampus jam berapa, Nda?” tanya Mami saat aku melangkah di tangga. “Kuliah pertama jam sepuluh, Mi,” jawabku. Mami mengangguk. “Selamat istirahat, sayang.” “Hmm. Good night, Mami.” Tepat saat aku berdiri di depan pintu kamarku, lampu-lampu di lantai bawah dimatikan. Tertinggal satu lampu sudut di dapur yang masih menyala. Sengaja

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN